Banyak Mengatur vs Longgar, Kamu Orang Tua yang Mana?

By Febi Purnamasari | Published 22nd January 2019

Tipe orang tua yang banyak mengatur vs longgar ada istilahnya, yakni tiger parent dan free-range parent (Dok. Shutterstock)

Saat masih kanak-kanak dulu, mungkin kita pernah mendengar ada teman yang terlalu diatur oleh orang tuanya. Bahkan, untuk merencanakan waktu bermain dengannya cukup sulit karena ia punya segudang kegiatan yang dirancang sang ibu.

Di sisi lain, ada juga teman yang tampaknya diberikan kebebasan untuk melakukan apapun. Ia tergolong mandiri dan berani melakukan berbagai hal tanpa didampingi orang tua. Sebut saja, naik kendaraan umum untuk berangkat ke sekolah meski ia masih duduk di sekolah dasar.

Ternyata, tipe orang tua yang banyak mengatur vs longgar ada istilahnya, lho. Yakni, tiger parent dan free-range parent. Berikut penjelasannya dari Psikolog Anak Monica Sulistiawati dan artikel USA Today.

Tiger parent

Orang tua tipe ini dikenal strict, mengedepankan keunggulan di bidang akademik, dan memilihkan ekstrakurikuler secara hati-hati untuk mengisi waktu luang anak. Ia otoriter dalam mendidik dan mengasuh anak juga memiliki tuntutan dan standar kedisiplinan yang tinggi.

Tiger parent juga menekan dan mendorong anak untuk memenuhi standar level tertentu sesuai harapan orang tua, khususnya terkait dengan prestasi akademik. Selain itu, ia memiliki karakteristik perfeksionis terhadap hal yang dilakukan oleh anak-anaknya. Misal, tiger parent merasa kecewa apabila standar yang telah diterapkan untuk anaknya tidak tercapai atau meleset meskipun hanya sedikit.

Sebagai contoh, orang tua mengharapkan anak mendapatkan nilai 90. Bagi orang tua, nilai 80 sudah buruk dan dapat memicu kekecewaan atau kemarahan. Orang tua dengan tipe pengasuhan yang termasuk tough-love parenting ini memang mengharapkan anak-anaknya dapat merespon berbagai tantangan dengan kuat.

Menurut Monica, tiger parenting memiliki dampak positif maupun negatif.

Dampak positif:

  • anak cenderung memiliki prestasi akademik yang baik;
  • anak juga memiliki standar atau ekspektasi tinggi mengenai diri mereka sendiri;
  • memiliki jadwal dan rutinitas yang teratur;
  • cenderung patuh dan penurut di awal perkembangannya, namun pada masa perkembangan remaja dapat memberontak.

Dampak negatif:

  • tingkat stres anak tinggi;
  • mudah mengalami masalah dalam perilaku sosial dan ekspresi emosi;
  • mudah frustasi dan putus asa;
  • kesulitan menemukan dan mengembangkan motivasi internal;
  • inisiatif dan tanggung jawab kurang berkembang;
  • sering kali impian yang dimiliki anak tidak realistis;
  • dependen dalam mengambil keputusan.

Free-range parent

Menurut USA Today, orang tua tipe ini mengizinkan anak-anaknya untuk berangkat sekolah atau bermain di playground sendirian. Anak-anak yang berusia muda juga mungkin diizinkan untuk naik transportasi umum atau membeli sesuatu seorang diri. Free-range parents percaya bahwa kebebasan ini mendorong kemandirian dan percaya diri anak. Namun, gaya pengasuhan tersebut menuai kontroversi karena dianggap abai dan membahayakan keselamatan anak.

Namun, Monica mengungkapkan penjelasan yang sedikit berbeda. Menurutnya, jenis pengasuhan ini berusaha menumbuhkan kemandirian pada anak sesuai dengan kapasitas mental dan usia perkembangan yang seharusnya sambil tetap mengawasi.

Misalnya, orang tua membiarkan anaknya yang berusia lima tahun meminta sendok kepada pelayan restoran yang berjarak tidak jauh dari tempat duduk sambil tetap mengawasi. Contoh lain, orang tua mengizinkan anak yang berusia lima tahun untuk makan sup tanpa disuapi.

Dampak positif:

  • menumbuhkan rasa percaya diri anak;
  • kemandirian dan keberanian anak berkembang;
  • daya juang dan sikap pantang menyerah berkembang ;
  • anak lebih memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalannya sendiri.

Dampak negatif:

  • anak mungkin saja mengalami kesulitan atau tantangan, namun masih dalam batas yang sesuai dengan usianya;
  • anak dapat mengalami rasa tidak nyaman dalam proses pembelajaran yang dilakukan;
  • orang tua membutuhkan kesabaran, usaha, dan energi yang besar untuk mendukung proses pembelajaran anak karena hasil yang diraih belum tentu sesuai dengan harapan. Misal, dalam hal kecepatan penyelesaian masalah, kebersihan ruangan saat anak belajar melakukan sesuatu sendiri, dan lain-lain.

Selain tiger parent dan free-range parent, masih banyak lagi istilah lain yang menggambarkan gaya pengasuhan tertentu. Yuk, simak juga artikel Dampak Orang Tua Terlalu Protektif dan Tipe Orang Tua yang Mengedepankan Penghargaan Diri Anak.

Referensi lain: artikel “What Is Authoritarian Parenting (Tough Love Parenting)” pada Parenting for Brain

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.