Anak Balita Suka Melempar dan Memukul Benda

By Febi Purnamasari | Published 26th March 2018

Perilaku suka melempar dan memukul sebenarnya bagian dari tumbuh kembang anak balita

Parentalk masih Menilik Polah Balita dan kali ini kita akan membahas kecenderungan mereka melempar dan memukul benda. Anakmu suka berperilaku serupa, Ayah dan Ibu? Kalau begitu, simak fakta-fakta menarik serta cara tepat menanggapinya berikut ini.

Melempar barang

Ketika anak melempar-lemparkan benda, kita pasti khawatir ia dapat merusaknya atau bahkan mencelakai orang lain. Namun di sisi lain, anak justru menjadi-jadi kalau kita melarangnya. Terlebih, polah ini sebenarnya bagian dari tumbuh kembangnya. Jadi, rasanya enggak adil ya, kalau kita malah membatasi rasa ingin tahunya tersebut. Dilematik memang!

Arahkan ke aktivitas bermanfaat

Ayah dan Ibu ternyata bisa, lho, mengarahkan polah ini menjadi aktivitas yang lebih aman dan bermanfaat. Misal, mengajak anak bermain lempar bola seperti bola pantai, bola tenis, dan bola berbahan karet. Hindari bola yang berbahan keras seperti bola golf dan bola berukuran kecil yang dapat dimasukkan ke dalam mulut si kecil.

Jelaskan benda-benda yang tidak patut dilempar

Beri tahu anak bahwa benda-benda tertentu memang untuk dilempar, namun tidak berlaku bagi sebagian barang lainnya. Misal, balok, mainan, buku, cangkir, dan sebagainya.

“Ini bola. Bola untuk dilempar.”

“Ini buku. Kita tidak melempar buku karena buku untuk dibaca.”

Tetapkan batasan juga pada si kecil mengenai tempat-tempat yang diperbolehkan untuk melempar (contohnya di luar rumah atau hanya di ruang bermain).

Memukul benda

Terkadang telinga rasanya sakit ya, kalau mendengar si kecil memukul-mukul meja. Tapi, tahukah, Ayah dan Ibu, inilah caranya bereksperimen dengan bunyi-bunyian dan irama. Coba kita bayangkan isi hatinya ketika memukul benda-benda yang ditemuinya.

“Kalau aku pukul panci ini, bunyinya berdentang. Beda ya, dengan suara meja kalau aku pukul, gedebuk gitu…”

“Kalau aku pukul meja makan, eh, kacang polongnya nari!”

“Lihat deh, reaksi ayahku kalau aku pukul-pukul meja di restoran. Dia jadi perhatiin aku! Coba lagi, ah…”

Tenang, bukan berarti si kecil ‘nakal,’ ya. Polah ini justru normal dan sesuai umur anak balita.

Cara tepat menanggapinya

Tak ada salahnya ikut bertepuk tangan atau menghentakkan kaki ketika si kecil menciptakan musiknya. Namun, orang tua perlu memberikan batasan bahwa ia hanya boleh melakukannya di rumah. Ketika anak hendak memukul-mukul benda di tempat umum, segera alihkan perhatiannya.

Ayah atau Ibu juga bisa mengarahkan ketertarikannya memukul-mukul benda melalui medium yang lebih aman. Seperti drum mainan, tamborin kecil, panci, sendok kayu, atau palu mainan.

Jika kamu merasa terganggu, hindari bersuara lebih nyaring dari pukulan yang diciptakannya. Hal itu hanya akan membuat anak kamu memukul lebih keras lagi. Untuk memberi tahu buah hati, bicaralah dengan lembut, namun tegas tanpa basa-basi. Siapa tahu ia justru akan menghentikan permainannya untuk sejenak mencerna pesan yang kamu sampaikan.

Jangan lupa pula bahwa anak jarang sekali mau mendengarkan frasa-frasa bernuansa larangan. Jadi, siap-siap berpikir cepat dan kreatif untuk mengalihkan perhatiannya.

Bila anak balita suka melempar dan memukul benda, tenaga maupun emosi orang tua bisa terkuras, ya! Tapi, selalu ingat kabar baiknya, berbagai polah yang telah kita bahas tadi merupakan bagian dari perkembangan si kecil. Jadi, bijak-bijaklah bereaksi terhadapnya.

Referensi: What To Expect The Second Year oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.