Alasan yang Membuat Orang Tua Semangat Menjalani Perannya

By Febi Purnamasari | Published 10th September 2018

Ketika kamu kewalahan atau stress mengasuh anak, coba hayati kutipan-kutipan berikut ini (Dok. Shutterstock)

Baru-baru ini saya membaca buku Psikolog Okina Fitriani yang berjudul The Secret of Enlightening Parenting. Sesuai judul bukunya, saya merasa tercerahkan usai membacanya tuntas. Menurut saya, ilmu seputar pengasuhan anak di buku tersebut sangat sayang jika tidak dibagikan dengan #MillennialParents. Berikut kutipan yang membuat orang tua semangat menjalani perannya. Ketika kamu kewalahan atau stres mengasuh anak, coba hayati kutipan-kutipan berikut ini.

“Anak adalah tamu istimewa.”

Sebagaimana Okina ungkapkan dalam bukunya, anak hadir melalui proses diundang oleh kedua orang tuanya dan ketika Tuhan menghendaki, hadirlah ia seberapapun keras usaha kita mendapatkannya. Karena anak adalah tamu istimewa yang merupakan tugas dari Tuhan, kita harus menerapkan cara istimewa pula untuk menjalankannya.

“Anak penolong orang tua.”

Anak kelak menjadi penolong orang tua di depan pengadilan Sang Pencipta, yakni lewat amalan tak terputus. Bahkan, ia bisa menghadiahkan orang tuanya mahkota di surga seperti hal yang telah dijanjikan Tuhan.

“Anak terlahir dengan potensi baik yang perlu dipelihara.”

Manusia lahir dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Tuhan juga melengkapi otak manusia dengan Pre-Frontal Cortext (PFC) yang tidak dimiliki makhluk lain. PFC memiliki fungsi luhur akal budi, kemampuan berbahasa, merencanakan, memecahkan masalah, pengambilan keputusan, dan fungsi kontrol. Orang tua pun bertugas menjaga potensi baik itu agar anak tetap baik atau berusaha menjadikannya lebih baik lagi.

Potensi-potensi tersebut menurut Okina, antara lain fitrah iman, bertahan hidup, belajar hingga piawai, kasih sayang, interaksi, fitrah seksualitas, dan tanggung jawab. Cara memeliharanya, yakni orang tua menjadi teladan, senantiasa mengingatkan, serta memperbaiki.

“Kasih sayang dan kesabaran membuat anak tumbuh dengan jiwa yang penuh cinta.”

Okina mengungkapkan, jiwa yang penuh cinta tentu membuat anak mudah menyayangi. Sebaliknya, anak yang kering kasih sayang, hatinya menjadi keras, mudah putus asa, dan mendendam. Alhasil, kepandaian dan kesuksesannya justru dapat menimbulkan kerusakan karena digunakan sebagai pelampiasan hati yang keras.

Terlebih, berdasarkan penelitian Martin Teicher, associate professor dari Harvard Medical School, suara keras serta perlakuan kasar dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang setara dengan anak yang mendapatkan siksaan fisik dan pelecehan seksual.

“Anak-anak adalah peniru ulung.”

Manusia belajar dengan cara meniru dan demikan pula anak-anak. Mungkin anak bisa salah menangkap pesan yang kita sampaikan, namun tidak pernah keliru meniru perilaku yang ia lihat sehari-hari. Matanya terikat pada perilaku orang-orang di sekitarnya, mulutnya meniru kata-kata yang didengar oleh telinganya. Begitu juga hal baik dan buruk yang berlaku menurut orang-orang dekat di sekitarnya. Maka dari itu, jadilah model terbaik sesuai dengan kriteria yang kamu harapkan dari anak.

“Ayah dan Ibu pendidik sekaligus penjaga anak-anak sepenuh jiwa maupun raga.”

Fungsi sebagai orang tua sangat sulit tergantikan oleh individu maupun lembaga apapun. Sebut saja,

  • mendidik dengan keimanan,
  • mendidik dengan keterikatan diri pada Tuhan,
  • mendidik dengan perilaku mulia,
  • menjaga akal dan tubuh anak tetap sehat, juga
  • mendidik dengan nilai-nilai kesadaran menjaga hak orang lain sebagai bentuk etika kemasyarakatan.

Karena itulah, orang tua harus berhati-hati menitipkan pengawasan anak kepada individu lain sebagai pengasuh. Subjek itulah yang akan lekat perilakunya ditiru oleh anak. Demikian pula dalam mencari lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Semoga berbagai kutipan dari Psikolog Okina Fitriani di atas membuatmu semangat menjalankan peran sebagai orang tua, ya!

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.