Tujuh Fakta Tentang Ayah Milenial

By Putu Dyah | Published 20th August 2018

Di era yang didominasi generasi milenial seperti sekarang, ada perubahan cukup signifikan dalam dunia parenting nih. Millenial dads -yang lahir di antara awal tahun 1980an sampai awal tahun 2000an-menilai peranan mereka bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Kehadiran mereka juga penting untuk mendampingi pasangan dan mengasuh anak. Seperti apa sih karakter ayah milenial? Berikut fakta-faktanya:

Jadi “ayah sempurna” itu penting

Menurut riset dari Baby Center, 88% ayah milenial merasa perlunya jadi sosok ayah yang sempurna. Mereka mengusahakannya dengan banyak belajar dan memiliki quality time bersama anak. Jadi, ayah bisa lebih berperan dalam mengasuh Si Kecil.

Tapi para ayah mengaku hal ini agak menantang. Apalagi mereka mesti mengusahakan work life balance. Di satu sisi mereka pengen berlama-lama bareng anak. Di sisi lain, mereka juga mesti kerja keras demi mendapat pemasukan buat keluarga.

Mau belajar soal parenting

Ayah milenial gak segan-segan mengedukasi dirinya. Dalam Think with Google disebutkan, 7 dari 10 ayah milenial mencari info parenting lewat gadget saat mereka sedang senggang. Entah itu dengan cara googling, via media sosial atau melihat video di YouTube. Items yang dicari ayah biasanya seputar kehidupan sehari-hari bersama bayi.

Seperti kenapa bayi menangis, bagaimana cara membuat bayi tertawa, tempat yang kids friendly atau membuka e-commerce untuk membeli kebutuhan bayi. Selain tambah pintar soal parenting, hal ini juga dilakukan ayah agar bisa membantu pasangannya dalam mengasuh anak.

Sediakan waktu sama anak

Survei dari Baby Center menunjukkan, 87% ayah milenial mau menghabiskan waktu bermain bareng anak-anaknya. Mereka juga mengalokasikan waktu khusus, misalnya untuk sekadar jalan-jalan ke taman dekat rumah atau liburan bareng keluarganya.

Makanya gak heran kalau sekarang kita bisa melihat para ayah menemani anak di playground, menjemput di daycare, didandanin ala princess sama anak ceweknya atau menikmati bongkar-bongkar mobil bareng anak cowoknya.

Ayah milenial bersedia habiskan banyak waktu bermain bareng anak. (Dok: Shutterstock)

Lebih hands on dalam mengurus anak

Ayah milennial lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak dibandingkan ayah dari generasi sebelumnya. Penelitian Pew Research di tahun 2015 menunjukkan, rata-rata ayah menghabiskan waktu sekitar 9 jam per minggu untuk mengurus anak-anak.

Mereka mau membantu ibu memandikan anak, menyuapi, mengajak main dan aktivitas lainnya. Tapi 48% di antara para ayah merasa waktu mereka buat keluarga belum cukup banyak. Di sisi lain, mereka mengaku kalau ibu masih lebih baik dalam hal mengurus anak-anak.

Gak peduli sama batasan gender

Kalau dulu, ada anggapan ‘ayah bekerja, sementara ibu mengurus anak dan rumah tangga’. Tapi buat ayah milenial, gender stereotype semacam ini sudah jadi cerita lama. Dalam situs Romper disebutkan, ayah masa kini sudah gak saklek terpaku sama pembagian tugas laki-laki dan perempuan. Mereka gak segan buat mengurus pekerjaan rumah, belanja ke supermarket dan mengerjakan tugas-tugas lain yang biasa dikerjakan para ibu.

Lebih respek dan suportif ke pasangan

Kebanyakan ayah milenial lebih menghargai keberadaan istri atau pasangannya. Mereka sadar sulitnya pekerjaan ibu dalam mengurus anak-anak dan semua kebutuhan rumah tangga. Para ayah juga lebih menghargai kebutuhan pasangan, misalnya saat istrinya butuh me time, ayah bakal sukarela gantian menjaga Si Kecil.

Selain itu, ayah juga memberi keleluasaan ibu untuk aktualisasi diri. Seperti dengan membolehkan pasangannya bekerja atau melakukan sesuatu di samping mengurus anak. Ayah milenial menyadari pentingnya menghargai dan memberi dukungan ke pasangan, demi kebahagiaan mereka bersama.

Bangga menjalani peran ayah

Sekarang, perhatikan deh, ada banyak ayah milenial yang bangga bercerita tentang perjalanan mereka sebagai ayah. Buktinya, gak sedikit ayah yang memposting foto anaknya dan bercerita lewat caption yang mereka tulis. Atau waktu lagi ketemuan sama teman-temannya, ada saja selipan cerita tentang anak dan keluarga di tengah obrolan mereka. For them, fatherhood is their identity.

Tentunya karakter-karakter tadi gak bisa digeneralisir ke semua ayah. Karena setiap ayah, punya caranya masing-masing dalam menunjukkan rasa sayang ke anak, pasangan dan keluarga. Bagaimanapun bentuk sayangnya, tetap ingat buat menghargai usaha dari pasangan kita ya.

(Dyah/ Dok: Shutterstock)

Share This: