Parents, artikel ini akan cukup berbeda dengan artikel yang sudah-sudah. Kali ini kita tidak membahas soal isu kesehatan, tumbuh kembang anak, atau isu sosial lainnya.
Artikel kali ini mungkin akan jadi renungan, terutama untuk penulis. Jika Parents merasa artikel kali ini relate dengan kalian, alhamdulillah. Jika tidak, tidak masalah.
Ternyata hadir untuk keluarga itu penting
Ramadan tahun ini mengajarkan banyak hal. Baik pelajaran yang sulit, maupun yang mudah, terutama soal yang paling sederhana:
Kehadiran.
Seperti yang penulis sudah prediksi sebelumnya, Ramadan kali ini pun banyak undangan untuk buka puasa bersama. Mulai dari teman kantor, teman kuliah, teman sekolah, bahkan sirkel pertemanan paling dekat.
Tapi, penulis sadar kalau semua itu penting, dan lebih penting lagi berbuka puasa bersama keluarga.
Tidak hanya hadir di buka puasa bersama dengan keluarga, tetapi mengisinya dengan semangat Ramadan.
Makanya, Ramadan kali ini membuat penulis akhirnya berani untuk bilang “maaf ya, saya ada bukber juga sama keluarga, terima kasih sekali undangannya”.
Perasaan pertama setelah mengucap kalimat tersebut adalah salah tidak ya saya menolak ajakan tersebut? Atau bagaimana relasi selanjutnya dengan mereka ya?
Tapi, perasaan tersebut tervalidasi dengan cepat, bahwasanya, tidak masalah dan tidak apa-apa untuk sesekali tidak hadir di sosial, tetapi hadir di keluarga.
Berbuka puasa dengan istri, anak-anak – ternyata punya kebahagiaan tersendiri. Bahagia yang bahkan penulis tidak tahu menceritakannya.
Satu hal yang bisa dirangkum dari poin satu ini adalah hadir, dan berperan.
Memaafkan diri sendiri
Poin kedua yang mau penulis bagikan adalah soal memaafkan diri sendiri. Tidak hanya bilang maaf saja, tetapi benar-benar diresapi.
Setiap waktu, kita bisa berbuat salah. Mungkin yang terhitung banyak adalah salah dengan orang lain. Tetapi, kadang kita lupa kalau kita juga salah dengan diri sendiri.
Dan minta maaf ke diri sendiri itu mudah, tapi kadang jadi sulit dilakukan karena kita lupa diri kita siapa sebenarnya.
Anyway, tulisannya ini bukan bermaksud menggurui siapapun, tetapi penulis hanya merefleksikan dirinya tentang Ramadan di tahun 2025.
Sampai akhirnya di Idulfitri
Mungkin, untuk ukuran tulisan refleksi diri, artikel ini singkat. Tapi, jika kita telaah dalam-dalam, akan menjadi luas sekali.
Seperti momen Hari Raya Idulfitri nanti. Dewasa ini, kita merasa Lebaran mungkin hanya berlaku dari Hari Raya, sampai 2-3 hari setelahnya.
Setelah itu kembali seperti biasa.
Kenapa seperti itu ya? Padahal, banyak orang bilang esensi dari Idulfitri adalah kembali suci. Tapi, kenapa sebagian dari kita tetap melakukan hari-hari seperti biasa saja?
Apakah ada yang hilang?
Penulis juga belum tahu apa yang hilang. Tapi, semoga Idulfitri tahun ini jadi titik balik untuk kita yang memang meniatkan sesuatu, meniatkan untuk jadi diri yang lebih baik.
Untuk jadi diri sendiri yang lebih terang.
Terkadang, suka terlintas dalam benak, apa sih yang selama ini dikejar?
Materi? Karir? Atau…apa?
Padahal, semua itu saat kita ‘pulang’ nanti, tidak ada yang dibawa.
Well, apapun yang kita cari, sepertinya punya tujuan yang kurang lebih sama. Bisa bawa keluarga bahagia dunia sampai kehidupan setelahnya nanti.
Parents, sekali lagi – artikel ini sepertinya hanya celotehan penulis saja, kalaupun tidak dibaca sampai habis, pun tidak apa.
Tapi, sedikit-banyaknya, hal ini mungkin sama-sama kita rasakan.
Selamat Hari Raya Idulfitri, ya semuanya.