Penyebab Anak Terlalu Saklek

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Lemahnya form constancy menjadi penyebab anak terlalu saklek alias tidak bisa menerima perbedaan sedikit saja walaupun ia dihadapkan pada benda yang sama (Dok. Shutterstock)

Alkisah, ada seorang anak yang baru saja belajar membaca kata “saya.” Di hari berikutnya, ia berhadapan dengan bacaan lain, namun tidak dapat menemukan kata “saya.” Ternyata, masalahnya adalah saat itu ia mendapati kata tersebut menggunakan jenis fon yang berbeda. Anak itu ternyata lemah dalam hal form constancy atau kemampuan yang berkaitan dengan ketetapan bentuk.

Ketetapan bentuk adalah salah satu faktor yang mengasah visual persepsi pada anak. Visual persepsi adalah kemampuan untuk memahami informasi yang dikirimkan oleh mata ke otak. Kemampuan ini dapat membantu anak belajar membaca nantinya.

Pada usia dini, kita dapat menilai kecenderungan si kecil memiliki form constancy yang lemah atau tidak, lho. Soalnya, lemahnya form constancy menjadi penyebab anak terlalu saklek alias tidak bisa menerima perbedaan sedikit saja walaupun ia dihadapkan pada benda yang sama.

Contohnya:

  • Anak tidak mau makan di mangkuk yang tidak berwarna biru. Menurutnya, mangkuk ‘hanya’ berwarna merah.
  • Jika sudah berusia empat tahun ke atas, anak kesulitan membaca buku dengan jenis fon yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Mempengaruhi kemampuan membaca dan memecahkan masalah

Menurut Spesialis Anak Usia Dini Rosalynn dari Montessori Haus Asia, orang tua perlu segera mengintervensi ketika anak memiliki masalah dalah hal form constancy.

Soalnya, form constancy tak hanya akan memudahkan anak belajar membaca, tetapi juga membantunya melihat suatu masalah dari angle yang berbeda-beda.

“(Misalnya) ada sebuah teko. Tapi, ada anak yang berpikir itu bukanlah teko. Padahal, hanya bahannya saja yang berbeda dari teko yang ia kenali. Maka dari itu, dengan memperkenalkan ke begitu banyak tekstur dan rupa, anak mengetahui bahwa teko ada banyak bentuknya, namun fungsinya sama,” jelas Rosalynn.

Kenalkan ragam tekstur dan bentuk

Guna memperkuat form constancy buah hati, Ayah atau Ibu bisa memberikan kesempatan padanya untuk merasakan sendiri berbagai bentuk dan tekstur benda.

Cara mengasah form constancy sebenarnya sederhana seperti bermain tebak-tebakan “I spy with my little eye…” Misal, Ibu meminta anak untuk mencari benda di sekitarnya dengan memberikan petunjuk huruf depan saja.

I Spy with my little eyeB…”

Bowl (mangkuk).”

Mangkuknya pun dapat berbahan apapun sehingga anak memahami rupanya ada beragam.

Cara lainnya untuk meningkatkan form constancy adalah dengan bermain sensory play atau permainan sensoris. Lewat kegiatan ini, si kecil dapat mengenali berbagai bentuk dan tekstur.

Mengasah form constancy dalam membaca

Jika anakmu sudah mulai belajar membaca, buat ia mantap pada satu jenis fon dulu. Menurut Rosalynn, ketika anak berusia empat tahun ke atas, barulah ia diperkenalkan dengan beragam fon. Misal, ada “a” gendut atau keong, “c” kursif atau tegak, dan sebagainya.

Kalau kamu baru mulai mengenalkan aneka huruf pada anak, utamakan huruf-huruf kecil dengan fon simpel, bukan koersif alias huruf sambung.

“Nanti makin besar, mereka semakin paham dan menyadari, ‘Oh, ini juga ‘a.’ Hanya saja berbeda bentuk,” tambah Rosalynn.

Ternyata ketetapan bentuk berperan dalam perkembangan anak ya, Bu! Yuk, berikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk berkenalan dengan dunia sekitarnya.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.