Mitos vs Fakta: Seputar Hamil Kembar

By Putu Dyah | Published 2nd May 2018

Saat hamil, kamu pasti pernah mendengar omongan ini-itu seputar kehamilan atau melahirkan. Ada yang fakta, ada juga yang sekadar mitos. Hal ini juga saya alami waktu hamil Si Kembar. Nah, kali ini saya mau berbagi mitos vs fakta seputar hamil kembar.

Bayi kembar lebih kecil dari bayi tunggal

Hal ini sesuai sama apa yang saya alami. Saat hamil kembar, nutrisi yang masuk ke tubuh ibu bakal terbagi untuk dua janin. Dokter kandungan pun mendorong saya untuk menjaga nutrisi makanan agar berat janin tidak terlalu kecil. Setelah lahir, bayi saya berbobot 2,5 dan 2,3 kilogram. Banyak suster yang bilang kalau berat itu terhitung cukup besar untuk ukuran anak kembar.

Tapi variasi berat tetap bisa terjadi. Seorang teman saya ada yang melahirkan anak kembar seberat 1,7 dan 1,9 kilogram. Ada juga teman lain yang melahirkan bayi kembar dengan berat masing-masing bayi 3 kilogram.

Menurut dokter kandungan dr. Benny Johan, Sp. OG. hal ini bergantung pada nutrisi dan genetik orang tua. Orang tua yang tubuhnya tinggi besar, lebih berpotensi melahirkan bayi yang besar. Begitu juga sebaliknya.

Bayi kembar bakal lahir prematur

Teman saya Devy Ashari, melahirkan bayi kembarnya di usia 32 minggu. Kebanyakan persalinan kembar memang terjadi secara prematur karena kondisi janin yang mendesak tubuh ibu.

“Saat hamil kembar, berat plasenta dan volume air ketuban lebih besar. Jadi beban rahim pun makin berat dan ibu beresiko melahirkan lebih awal,” ujar dokter Benny.

Tapi kondisi berbeda justru saya alami sendiri. November 2016 lalu, saya melahirkan Si Kembar saat usia kandungan sudah lewat dari 40 minggu. Uniknya, saya sama sekali tidak merasakan mulas atau kontraksi walaupun sudah lewat dari HPL.

Mitos vs Fakta: Seputar Hamil Kembar
Saat melahirkan Si Kembar lewat operasi caesar. (Dok: Pribadi)

Kembar pasti melahirkan secara caesar

Saya melahirkan Si Kembar lewat operasi caesar. Waktu itu kehamilan saya sudah lewat HPL dan belum ada kontraksi. Sementara air ketuban menipis dan plasenta mulai mengalami pengapuran.

Saat di USG juga posisi salah satu janin melintang, sementara saudaranya sudah siap dengan posisi kepala di bawah. Menurut dokter, kondisi seperti ini sebaiknya tidak dipaksakan melahirkan normal karena beresiko bagi ibu dan bayi. Akhirnya operasi pun jadi jalan keluar.

Tapi enggak semua ibu yang hamil kembar melahirkan lewat c-section. Teman saya, Devy dapat melahirkan kedua bayi kembarnya lewat proses normal. Menurut dokter Benny, ada beberapa syarat ibu hamil kembar untuk dapat melahirkan normal.

“Yang jelas posisi kepala bayi kembar mesti di bawah. Terus bayi tidak ada masalah seperti hipertensi atau lilitan. Panggul ibu juga tidak sempit dan ukuran bayi sebaiknya tidak terlalu besar,” kata dokter Benny.

Bayi yang keluar duluan jadi kakaknya

Di beberapa daerah, seperti di Jawa, bayi kembar yang lahir belakangan biasanya menjadi kakak. Katanya, dia mengalah salah saudaranya yang lahir duluan. Saya dan suami termasuk yang menganut pemahaman ini.

Tapi sebenarnya, kami sudah membuat kesepakatan sendiri. Berhubung jenis kelamin Si Kembar adalah laki-laki dan perempuan, si cowok lah yang kami tunjuk sebagai kakak.

Kebetulan saat persalinan, bayi laki-laki kami memang keluar belakangan dibanding bayi perempuan. Jadilah si cowok sebagai kakak, dan si bayi cewek sebagai adik.

Tapi secara medis, tetap si bayi cewek atau yang lahir duluan lah yang tercatat sebagai kakak. Karena yang dilihat adalah waktu kelahirannya.

Pada kenyataannya, setelah merawat mereka berdua, tidak ada yang benar-benar berposisi sebagai kakak atau adik. Karena keduanya di tahap perkembangan yang sama dan mereka butuh porsi perhatian setara. Berbeda dengan kakak-adik pada umumnya yang jarak waktu kelahirannya memang signifikan.

Setiap kehamilan punya cerita istimewa. Jadi apapun mitos yang Ibu dengar, yang penting nikmati prosesnya ya Bu.

(Dyah/ Dok: Pribadi)

 

Share This: