Mitos: Bayi Batuk Pilek, Ibunya Harus Minum Obat

By Febi Purnamasari | Published 18th September 2018

Sebagian besar obat yang dijual bebas maupun obat yang diresepkan tidak berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang menyusu bila dikonsumsi sang ibu sesuai dosisnya (Dok. Shutterstock)

Berdasarkan penelitian terbaru, sebagian besar obat dapat Ibu konsumsi secara aman selama menyusui. Jenisnya termasuk obat-obatan pereda nyeri seperti asetaminofen dan ibuprofen, sebagian besar obat penenang, beberapa antibiotik, antihipertensi, obat-obatan antitiroid, dan antidepresan. Temuan tersebut disampaikan oleh penulis buku What To Expect The Second Year, Heidi Murkoff dan Sharon Mazel. Tapi, jangan karena dianggap aman, Ibu jadi serta-merta mengandalkan obat-obatan tadi untuk ‘mengobati’ Si Kecil yang sakit, ya.

Busui minum obat untuk sembuhkan bayi hanya mitos

“Kalau bayi batuk pilek, ibunya harus minum obat agar kandungannya mengalir lewat ASI.”

Adakah #MilennialParents yang beranggapan seperti itu atau pernah mendapatkan saran serupa? Menurut Konselor Laktasi F.B. Monika, ternyata hal tersebut hanya mitos, lho.

“Bayi sakit yang minum obat bayinya. Betul, sebagian obat yang keluar via ASI, tapi dengan kadar yang tidak sesuai dengan kebutuhan (tubuh si bayi),” jelas Monika kepada Parentalk.

Senada dengan Monika, Murkoff dan Mazel juga menjelaskan, sebagian besar obat yang dijual bebas maupun obat yang diresepkan tidak berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang menyusu bila dikonsumsi sang ibu sesuai dosisnya. Jadi, upaya minum obat demi Si Kecil membaik justru tidak berguna.

Ketahui efek samping obat-obatan tertentu bagi bayi

Meski begitu, perlu Ibu ketahui pula, beberapa obat lainnya dapat memberikan efek ringan dan sementara juga ada obat-obatan tertentu yang membahayakan secara signifikan bagi bayi. Misal, obat yang mengandung efedrin dan pseudoephedrine pada obat-obatan flu yang dapat menurunkan produksi ASI. Gawat kan, Bu. Saat Si Kecil sakit dan butuh lebih banyak cairan, eh, ASI Ibu malah berkurang.

Selain itu, dekongestan yang memberikan efek melegakan hidung dapat menyebabkan bayi rewel dan antihistamin (obat alergi) dapat membuat Si Kecili mengantuk.

Sementara, obat-obat yang jelas membahayakan, antara lain obat-obatan antikanker, litium, dan ergot (untuk mengobati migrain). Jadi, sebaiknya kamu tetap mengonsultasikan konsumsi obat-obatan apapun kepada dokter anakmu untuk informasi yang lebih baru, ya.

Ketahui juga, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan, anak-anak di bawah 4 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi obat batuk dan pilek sepeti dextromethorphan, guaifenesin, dekongestan, dan antihistamin. Pasalnya, obat-obatan tersebut hanya diujikan pada orang dewasa, bukan anak-anak. Selain itu, studi pada orang dewasa pun menghasilkan bukti yang lemah bahwa obat batuk dan pilek membantu meredakannya.

ASI adalah ‘obat’ terbaik untuk bayi

Lagipula, mengapa bergantung pada obat-obatan, sementara ASI adalah zat penyembuh terbaik bagi buah hati?

Menurut Breastfeeding USA, organisasi menyusui di Amerika Serikat, ASI mampu beradaptasi terhadap kondisi ibu maupun bayi. Ketika keduanya terpapar bakteri dan virus, antibodi yang khas dengan antigen tersebut terkandung dalam ASI. Karena itulah, saat bayi sakit, hal terbaik yang bisa Ibu lakukan adalah terus menyusui. Terlebih, Ibu harus menjaga asupan cairan bayi yang sakit, khususnya bila disertai muntah atau diare.

Tapi, anaknya kelihatan menderita banget. Masa saya hanya menyusui, bagaimana mengurangi batuk pileknya?

Penyakit batuk pilek alias selesma akan sembuh dengan sendirinya. Menurut Dokter Spesialis Anak Arifianto dalam blog-nya, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah menyamankan bayi dengan cara sebagai berikut.

Pemberian obat pereda demam atau nyeri seperti parasetamol dan ibuprofen

Obat-obatan ini diberikan untuk menyamankan anak yang demam dan rewel. Tapi, pemberiannya harus dengan dosis yang tepat dan bukan bertujuan untuk mencegah demam. Selain itu, jangan berikan ibuprofen pada bayi di bawah usia 6 bulan tanpa persetujuan dokter.

Melembabkan udara

Misalnya, dengan meletakkan air panas di kamar mandi dan membuat ruangannya beruap menyerupai sauna. Namun perlu orang tua pahami, cara ini juga berisiko menyebabkan cedera anak terkena air panas.

Banyak minum adalah cara terbaik meredakan batuk pilek

Pasalnya, dahak dapat menjadi lebih encer dan memudahkan anak menelannya. Selain itu, asupan cairan yang cukup dapat mencegah dehidrasi akibat demam.

Bagaimana dengan semprot hidung menggunakan NaCl?

“Penggunaannya dapat mengurangi keluhan hidung tersumbat karena ingus kental dan mencairkannya. Pada praktiknya, anak-anak tidak suka disemprot hidungnya dan orang tua sulit melakukannya,” tulis dokter yang akrab disapa Apin itu di blog-nya.

Ibu juga bisa meninggikan posisi tidur bayi atau rajin menggendong Si Kecil untuk memudahkannya bernapas ketika pilek, lho.

Referensi:

  • 160 Tanya Jawab seputar Menyusui oleh dr. IGAN Partiwi, SpA dan dr. Winur Widijanti, SpOG
  • Artikel “Kids’ Cold Medicines: Guidelines” pada Web MD
  • “Aturan Penting Saat Memberi Ibuprofen untuk Anak” pada Hello Sehat

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.