Mengenal dan Mencegah Penyakit Fimosis Pada Anak

By Putu Dyah | Published 2nd May 2018

Beberapa waktu lalu, Parentalk mendapat pertanyaan tentang fimosis. Sebelumnya, saya sendiri belum pernah dengar tentang penyakit yang terjadi pada penis ini. Tapi setelah browsing dari beberapa sumber, sekarang saya tahu kalau fimosis rentan dialami anak laki-laki berusia 2-6 tahun.

Tanda-tanda fimosis

Kebanyakan anak yang mengalami fimosis tidak menunjukkan gejala khusus. Tapi Ayah dan Ibu dapat mengamati tanda-tandanya saat memandikan Si Kecil.

Pada anak yang mengalami fimosis, kulup penisnya melekat pada kepala penis sehingga tidak dapat ditarik ke belakang. Padahal sebenarnya, kulup penis bersifat elastis.

Menurut dokter Mahdian Nur Nasution, Sp.BS., fimosis dapat mengganggu pengeluaran urin. “Jadi kalau pipis akan menggelembung karena urin ketahan di kulit (penis) dulu. Setelah tekanan gelembung tinggi, baru keluar urinnya. Jadi seperti ada bocoran dari kulit,” kata dokter Mahdian seperti dilansir dari situs Kompas.com.

Tanda-tanda lainnya yaitu anak dapat mengalami demam karena terjadi infeksi di penis atau saluran kemih. Infeksi ini sendiri disebabkan oleh pertumbuhan bakteri, akibat urin dan kotoran yang tertahan di kulit penis.

Jika tidak segera diatasi, infeksi yang mulanya terjadi di kulit penis dapat menyebar ke kepala penis lalu ke saluran kemih. Demam yang terjadi berulang pada anak juga dikhawatirkan dapat menganggu tumbuh-kembangnya.

Fimosis wajar terjadi, tapi…

Sekitar 40% anak laki-laki yang belum disunat mengalami fimosis. Penyebabnya bisa karena bawaan sejak lahir atau akibat kurang menjaga kebersihan.

Fimosis masih dianggap wajar dan umumnya tidak menimbulkan masalah kalau terjadi pada usia bayi dan balita. Ayah dan Ibu juga bisa tenang karena seiring waktu kulup penis akan terpisah sendiri dari kepala penis.

Tapi di beberapa kasus, kulup penis tetap tidak bisa ditarik ke belakang hingga usia 17 tahun. Jika kondisi tersebut berlangsung lama dan kesehatan anak terganggu, sebaiknya anak segera mendapat pertolongan medis. Apalagi fimosis yang terjadi sampai usia dewasa berpotensi mengganggu aktivitas seksual.

Menjaga kebersihan anak dapat mencegah terjadinya penyakit fimosis. (Dok: Pixabay)

Mencegah dan mengatasi fimosis

Dalam situs Alodokter disebutkan, umumnya fimosis bukan merupakan masalah serius dan tidak membutuhkan pengobatan khusus. Pada anak-anak, gangguan di kulup penis ini dapat diatasi dengan melakukan sirkumsisi atau sunat. Cara tersebut dapat menghindarkan anak dari infeksi berulang pada kepala penisnya.

Tapi jika infeksi menyebabkan bengkak atau iritasi kemerahan pada penis, dokter biasanya memberikan krim khusus. Seperti krim antijamur untuk mengatasi infeksi yang disebabkan jamur. Atau antibiotik untuk mengobati infeksi akibat bakteri.

Selain itu, Ayah dan Ibu juga dapat mencegah terjadinya fimosis dengan menjaga kebersihan penis Si Kecil. Saat mandi, tarik kulup penisnya secara perlahan untuk membersihkan area kulit di bawahnya.

Bila perlu gunakan air hangat dan sabun ringan agar anak merasa nyaman. Guna menghindari iritasi, sebaiknya kamu tidak memakaikan bedak di area penis anak.

Jadi, meskipun fimosis wajar terjadi, tetap perhatikan kondisi Si Kecil ya. Khususnya kalau ada gangguan kesehatan yang membuat anak merasa tidak nyaman.

(Dyah/ Dok: Pixabay)

Share This: