Manfaat Menjadi Breastfeeding Father

By admin | Published 21st December 2017

Breastfeeding father tak sekadar IMD

Usai jalani operasi Caesar, Muhammad Aufar Hutapea, suami Olla Ramlan, menjalankan breastfeeding father pada si kecil Adreena Hana Hutapea yang lahir awal November lalu. Manfaat menjadi breastfeeding father ternyata sangat banyak.

Eits, jangan bayangkan menyusui dengan makna yang sesungguhnya, ya. Menurut dr. IGAN Partiwi, breastfeeding father maksudnya, ayah melanjutkan inisiasi menyusu dini (IMD) setelah ibu melakukannya. Pada IMD, bayi diletakkan di perut atau dada ibu (bila dioperasi caesar) segera setelah lahir agar ia merayap mencari puting susu.

Penting dalam persalinan caesar

Breastfeeding father penting terutama dalam persalinan dengan operasi caesar saat IMD lebih sulit dijalankan oleh ibu karena luka jahitan. Apalagi, ruang operasi sangat dingin.

“Kontak kulit dengan kulit antara bayi dan ayah percis kita kerjakan seperti ibunya untuk menimbulkan refleks-refleks bayi. Begitu ketemu ibunya, bayinya sampai hari ini enggak pernah ada yang pernah ngajarin, dia pinter (menyusu). Jadi, itu yang membuat produksi ASI bagus karena bayi melakukannya dengan tepat tanpa kita membimbing apapun,” jelas dr. Tiwi saat menceritakan pengalaman Aufar menjalankan IMD pada Adreena.

Manfaat breastfeeding father

Dengan melakukan IMD, bayi juga terhindar dari hipotermi (kedinginan) karena kontak kulit dengan ibu maupun ayah. Bahkan menurut penelitian Karen Edmond dari Inggris, IMD dapat mencegah 22% kematian bayi di bawah usia 28 hari dan 16% kematian bayi bila disusui sejak hari pertama kehidupannya.

Breastfeeding father tak sekadar IMD

Breastfeeding father tak sekadar IMD

Namun, peran breastfeeding father alias ayah menyusui sebenarnya tak berhenti sampai IMD saja, tapi juga lewat dukungan lainnya selama ibu memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayi.

Berikut bentuk dukungan ayah menyusui untuk menyukseskan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menurut buku 9 Bulan yang Menakjubkan.

  • Ikut mempelajari teknik dan manajemen laktasi sebelum bayi lahir
  • Membantu istri merawat bayi agar ia dapat beristirahat
  • Menemani istri bangun di malam hari untuk menyusui atau mengganti popok bayi. Bila ayah bersedia mengganti popok dan menidurkan bayi kembali akan lebih baik lagi.
  • Menyendawakan bayi usai menyusu, yakni dengan menggendongnya menghadap bahu hingga perutnya menekan tubuh ayah dan tepuk-tepuk punggungnya sampai bersendawa
  • Membantu menyamankan istri saat menyusui. Misal, mengusap-usap punggung istri, menyusun bantal untuk mengganjal punggung, atau membuatkannya minuman.
  • Membesarkan hati istri ketika ia merasa lelah, bosan, atau menghadapi masalah-masalah menyusui
  • Hindari menyinggung perubahan pada bentuk tubuhnya
  • Temani istri berkonsultasi pada klinik menyusui ketika ia memiliki masalah menyusui
  • Bantu ia menghadapi kritik atau saran tentang caranya menyusui atau pemberian susu formula dari orang lain
  • Belajar cara penyimpanan, menghangatkan, dan memberikan ASI perah kepada bayi

Dengan menjadi ayah menyusui, sejumlah keuntungan bisa dituai. Misal, menghemat pengeluaran karena ASI kaya nutrisi, praktis, dan gratis. ASI juga memberikan daya tahan tubuh pada si kecil sehingga tidak mudah sakit. Biaya kesehatan pun dapat dipangkas dan ayah tidak perlu sering izin dari kantor untu menjaga bayi yang sakit maupun mengantarkannya ke dokter. Tak kalah penting, hubungan ayah, ibu, dan anak semakin dekat berkat skin-to-skin contact selama menyusui dan menyendawakan si kecil.

Referensi: 9 Bulan yang Menakjubkan oleh Bonny D. Hall, dkk.

(Febi/ Dok. Instagram/riomotret & Pixabay)

Share This: