Sering Berseberangan Pendapat dengan Mertua?

By Febi Purnamasari | Published 28th November 2018

 Kompromi dan negosiasi dapat menjaga keharmonisan di antara dua keluarga juga mengurangi risiko kebingungan pada anak karena perbedaan gaya pengasuhan (Dok. Shutterstock)

Ketika masih pacaran dengan suami, kalian begitu dekat dan kompak. Kamu pun merasa beruntung punya calon mertua yang begitu asik, ramah, dan perhatian. Namun setelah menikah dan melahirkan, kamu melihat beliau sebagai sosok yang berbeda dan kerap merasa tak nyaman di dekatnya. Terutama, saat ibu mertua banyak menghujani nasihat dan kerap mempermasalahkan gaya pengasuhan kamu beserta suami.

Sebagian ibu mungkin mengalami hal ini apalagi kalau masih tinggal serumah dengan mertua. Kamu sebenarnya sering tak sependapat sehingga cenderung menjaga jarak. Namun di sisi lain, kamu tetap ingin berlaku sopan dan senantiasa menghormatinya. Apalagi, cara menghadapi mertua membutuhkan kontrol diri yang lebih besar. Berbeda dengan cara kita menghadapi orang tua sendiri yang memungkinkan untuk menyampaikan sikap secara langsung.

Berkompromi demi keharmonisan keluarga

Menurut Psikolog Anindya Dewi Paramita, perdebatan tentang cara mengasuh anak di antara orang tua dan kakek-neneknya kerap terjadi di banyak keluarga.

Biasanya kalau sudah ada cucu, anaknya sudah enggak dipentingkan sama sekali. Pokoknya apapun untuk cucu,” jelas Psikolog Anindya saat berdiskusi dengan peserta Parenting Class yang digelar Leader Lab pada pertengahan Januari 2018.

Kamu dan pasangan pun perlu memaklumi kecenderungan tersebut. Kalian juga sebaiknya berkompromi juga bernegosiasi dengan mertua. Tujuannya untuk menjaga keharmonisan di antara dua keluarga dan mengurangi risiko kebingungan pada anak karena perbedaan gaya pengasuhan.

Menegaskan aturan utama

Pada akhirnya, orang tua sangat kesulitan membuat semua peraturan berjalan sebagaimana mestinya saat anak tengah bersama mertua. Alih-alih menjadi stres dan membuat hubungan dengan mertua semakin ‘panas,’ sebaiknya kamu mulai menyampaikan aturan-aturan utama.

“Biasanya aturan itu bisa ditawar dan diajukan ke orang tua kita. Namun, tidak semua area bisa longgar bagi kakek dan nenek. Itu kembali lagi pada ibu sendiri, mau sejauh mana membatasinya,” jelas Anindya.

Misal, Ayah atau Ibu sudah pasrah bila Si Kecil makan permen saat bersama kakek dan neneknya. Tapi untuk urusan belajar, kakek-nenek tidak boleh ikut terlibat.

Contoh kasus lainnya, ada orang tua yang tidak suka kalau anaknya tidak mandi sore.

“Pokoknya, anaknya harus bersih sehingga dalam sehari harus mandi dua kali. Sementara, kakek-neneknya merasa bahwa cucunya tidak perlu mandi jika memang enggan. Pada akhirnya, si ibu mengalah saja untuk urusan mandi karena neneklah yang mengurus anaknya saat ia bekerja. Tapi saat Si Kecil sakit, nenek dan kakeknya harus mengikuti cara si ibu menghindari pemberian obat bila belum dibutuhkan,” terang Anindya.

Kesimpulannya, kamu dan pasangan perlu mengomunikasikan kepada mertua tentang area-area yang harus dibatasi, begitu pula area yang masih bisa ditoleransi. Dengan begitu, hubungan kalian dapat tetap ‘aman’ di tengah perbedaan-perbedaan pendapat.

Lalu, bagaimana cara yang tepat menyampaikan hal tersebut kepada mertua? Selengkapnya dalam artikel ini(Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.