Tanda-Tanda Anak Kekurangan Zat Besi

By Febi Purnamasari | Published 19th September 2018

Anemia menjadi masalah kesehatan serius karena anemia berat dapat meningkatkan risiko kematian juga mengganggu perkembangan fisik dan kecerdasan anak (Dok. Shutterstock)

Ketika anak mengalami lesu, rewel, nafsu makan menurun, dan berat badan sulit bertambah, coba deh, segera konsultasikan ke dokter untuk mengecek kecukupan zat besinya. Gejala-gejala di atas, bisa mengarah pada anemia.

Faktanya, angka kejadian kekurangan zat besi pada anak di bawah 2 tahun di Indonesia cukup tinggi, lho ternyata. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2007, hampir separuh (40-45 persen) dari balita di Indonesia mengalami Anemia Defisiensi Besi (ADB). Anemia pun menjadi masalah kesehatan serius karena dapat mengganggu tumbuh kembang si kecil. Misal, menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Selain itu bisa mengganggu pertumbuhan organ sampai menurunkan daya konsentrasi anak.

Terlebih menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), prevalensi tertinggi ADB ditemukan pada akhir masa bayi dan awal masa kanak-kanak. Makanya IDAI merekomendasikan pemberian suplemen zat besi setiap hari sampai anak usia 2 tahun.

Kapan bayi perlu diberi suplemen zat besi?

Berdasarkan laporan kesehatan yang diterbitkan Akademi Dokter Anak Amerika (AAP), bayi yang lahir cukup bulan pada umumnya memiliki cadangan zat besi yang cukup sampai usia 4-6 bulan. Meski demikian, bayi cukup bulan yang menerima ASI eksklusif dianjurkan untuk mendapatkan suplemen zat besi 1 mg/kg/hari mulai usia 4 bulan, yakni saat cadangan zat besi mulai menurun. Pemberian suplemen zat besi dengan dosis tersebut pun belanjut sampai bayi berusia 6 bulan, persisnya saat Si Kecil mulai diberikan MPASI. Mulai usia 6 bulan, kecukupan zat besi dipertahankan dengan pemberian MPASI kaya zat besi.

Namun, bayi-bayi cukup bulan yang mendapatkan susu formula dengan fortifikasi zat besi tidak perlu lagi mendapatkan suplemen zat besi sebelum berusia 6 bulan. Namun, sama halnya dengan bayi ASI eksklusif, bayi cukup bulan yang mengonsumsi susu formula dianjurkan mendapatkan MPASI kaya zat besi setelah berusia 6 bulan.

Sementara untuk bayi prematur, pemberian suplemen zat besi sebaiknya lebih awal karena sangat rentan kekurangan zat besi.

Balita usia 1-3 tahun

Kebutuhan zat besi di usia ini adalah 7 mg/hari. Sebenarnya, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari. Akan tetapi, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, asupan zat besi dari makanan harian sering kali kurang atau terabaikan sehingga suplementasi zat besi diperlukan.

Pemeriksaan untuk anak dengan gejala anemia

Tanda-tanda kekurangan zat besi memang sulit dilihat dengan mata, maka dari itu dokter biasanya akan meminta anak untuk cek darah. Pemeriksaan rutin untuk screening ADB, antara lain mencakup:

  • Hb,
  • red cell indices (MCV, MCH), dan
  • feritin; transefrin/TIBC; zat besi di serum (Serum Iron).

Ketika anak didagnosis ADB, ia akan menjalankan terapi mulai dari meningkatkan kualitas makanan sampai mengonsumsi suplemen zat besi selama waktu yang dianjurkan oleh dokter (biasanya 2-3 bulan hingga nilai Hb kembali normal).

Tips memberikan suplemen zat besi ke anak

Cara terbaik menggunakan zat besi adalah sebagai berikut.

  • Saat perut kosong, yakni 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan.
  • Dosis terbagi, yaitu pemberian suplemen zat besi dalam 2-3 kali per hari (diskusikan jumlah dosis dengan dokter).
  • Zat besi diberikan bersama vitamin C atau minuman sumber vitamin C seperti jeruk untuk membantu penyerapan zat besi.

Makanan sehari-hari tetaplah terapi utama

Menurut situs Grup Sehat , suplemen zat besi merupakan asupan tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Suplementasi tersebut pada akhirnya meningkatkan hemoglobin dan memulihkan cadangan zat besi ke kondisi normal. Walau begitu, perlu kita ingat, asupan rutin dari makanan sehari-hari merupakan terapi utama.

Sayuran berdaun hijau seperti selada air, kangkung, brokoli, bayam hijau, buncis, dan kacang-kacangan kaya akan zat besi. Sementara, sumber makanan hewani seperti daging merah dan kuning telur tak hanya kaya zat besi, tapi juga lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan sumber nabati.

IDAI pun mengingatkan, dalam proses pengolahan bahan makanan, kita sangat perlu memperhatikan pengolahan yang baik dan benar. Dengan begitu, kandungan zat besi tidak berkurang dari bahan makanan tersebut.

Referensi:

  • Artikel “Rekomendasi Pemberian Suplemen Besi” pada Grup Sehat
  • “Anemia Defisiensi Zat Besi” pada Grup Sehat

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: