Kapan Perlu Khawatir dengan Perkembangan Anak?

By Febi Purnamasari | Published 7th September 2018

Meski pada dasarnya perkembangan anak pasti berbeda-beda, orang tua harus waspada jika Si Kecil tidak berada di rentang normal (Dok. Shutterstock)

Hampir setiap ibu pasti pernah membandingkan perkembangan anak dengan anak-anak lain seusianya. Tapi, kalau jadi sering terbawa perasaan alias baper karena kecenderungan tersebut, wah, bisa-bisa kita stres! Lalu, kapan perlu khawatir dengan perkembangan anak? 

Beruntung, Dokter Spesialis Anak Fransisca Handy akan berbagi jawabannya dengan #MillennialParents!

Pastikan anak berada di rentang normal

Setiap anak tumbuh dan memperoleh ragam kemampuan dengan kecepatannya masing-masing. Sebagian anak mungkin lebih terdepan dalam satu area sepeti bahasa, namun terlambat untuk kemampuan lainnya seperti perkembangan indrawi dan motorik. FYI, tonggak perkembangan (milestones) anak saja terbagi ke dalam lima area utama: pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosional, perkembangan bahasa, juga perkembangan indrawi dan motorik.

Namun, menurut dr. Fransisca, meski pada dasarnya perkembangan anak pasti berbeda-beda, orang tua harus waspada jika Si Kecil tidak berada di rentang normal. Untuk mengetahuinya, orang tua dapat menggunakan Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) yang idealnya dievaluasi setiap 3-6 bulan sekali.

Dalam kuesioner tersebut, orang tua diminta menjawab sepuluh pertanyaan seputar kemampuan anak dari berbagai aspek sesuai usianya. Jika orang tua menjawab “ya” pada 9-10 pertanyaan, anak berada dalam rentang normal. Namun, jika kurang dari 9 pertanyaan yang dijawab “ya,” orang tua perlu waspada.

Selain menggunakan KPSP, skrining perkembangan anak juga dapat dilakukan setiap kali kunjungan ke tenaga kesehatan.

“Orang tua bisa skrining sendiri (lewat KPSP) sebagai langkah awal. Kalau ada yang mencurigakan, kita mesti bilang ke dokter. Tenaga kesehatan juga punya alat sendiri untuk skrining tumbuh kembang anak,” jelas dr. Fransisca kepada Parentalk.

Alat yang digunakan oleh dokter untuk memantau perkembangan anak adalah Denver II, sementara Puskesmas mengandalkan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).

Jika berdasarkan evaluasi, Si Kecil diduga mengalami gangguan perkembangan, tenaga kesehatan akan merujuk orang tua ke klinik tumbuh kembang anak.

Untuk memantau perkembangan anak, orang tua juga bisa mendiskusikannya dengan guru PAUD atau TK Si Kecil kalau ia sudah bersekolah. Dengan begitu, masukan dari gurunya dapat menjadi pegangan Ayah atau Ibu terkait perlu atau tidaknya kunjungan ke klinik tumbuh kembang anak.

Deteksi gangguan perkembangan lebih dini lebih baik

Menurut dr. Fransisca, semakin dini orang tua mendeteksi gangguan perkembangan anak, semakin memungkinkan intervensi dilakukan dan semakin bagus hasilnya. Pasalnya, ketika Si Kecil sudah melewati masa balita, pemantauan tumbuh kembang anak cenderung lebih longgar.

“Apalagi, kalau sudah usia sekolah dan remaja, orang tua menganggap, ‘Oh, enggak apa-apa, dia sudah sekolah setiap hari.’ Tapi, aspek perkembangan apa yang harus diwaspadai? Kalau balita kan orang tua tahu kemampuan berjalan, berbicara, dan berinteraksi sosial. Begitu masuk usia sekolah dan usia remaja, ternyata lebih longgar (pemantauan perkembangannya). Kunjungan ke tenaga kesehatan juga lebih jarang. Orang tua menjadi enggak ngeh ada gangguan perkembangan di masa itu,” ungkap dr. Fransisca.

Kecenderungan membanding-bandingkan kemampuan anak secara kasat mata memang sulit terelakkan. Namun, alangkah lebih bijak jika kita rutin menggunakan instrumen yang lebih terukur untuk menilai dan memantau perkembangan anak. Selain itu, jika skor KPSP anak belum memenuhi standar, segeralah mengonsultasikannya pada tenaga kesehatan. Dengan begitu, gangguan perkembangan Si Kecil dapat cepat ditangani.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: