Jangan Mudah Memaklumi Perilaku Buruk Anak

By Febi Purnamasari | Published 1st November 2018

Si anak secara otomatis akan berpikir bahwa perilakunya sudah benar karena orang tua memaklumi dan tidak memberikan teguran (Dok. Shutterstock)

Pernahkah kita mendengar orang dewasa mengungkapkan hal-hal sebagai berikut?

“Yah, namanya juga anak laki-laki…”

“Maklumlah, namanya juga anak-anak… Tidak sengaja.”

Tak dipungkiri, gaya bicara ini pernah secara refleks terlintas di pikiran, bahkan terlontar oleh saya. Menurut saya, kecenderungan memaklumi perilaku buruk anak diwariskan secara turun-temurun. Namun ternyata, respon semacam itu justru menjadi masalah bila diucapkan setelah anak mengganggu atau bertengkar dengan adik maupun temannya.

Menurut Praktisi Pendidikan Anak Edy Wiyono alias Ayah Edy, anak secara otomatis akan berpikir bahwa perilakunya sudah benar karena orang tua memaklumi dan tidak memberikan teguran. Maka tak heran, bila kemudian anak mengulangi perilaku buruknya kembali. Dampak lebih buruk lagi, kebiasaan tersebut terbawa hingga dewasa.

Lebih baik terapkan batasan dengan empati sejak dini

Sejatinya, anak-anak butuh batasan untuk merasa aman. Ayah Edy pun menyarankan orang tua untuk mendidik setiap anak dengan tegas, bukan keras, sejak usia dua tahun. Semakin dini usianya, anak semakin mudah untuk dikelola dan diajak bekerja sama lewat dialog dari hati ke hati secara tegas dan konsisten.

Di sisi lain, menurut Dr. Laura Markham, psikolog klinis dari Columbia University, orang tua perlu mengatur batasan untuk anak-anak mereka sejak berusia balita demi perkembangan emosi yang sehat.

Seperti yang kita tahu, keinginan balita sering kali bertentangan dengan keamanan dan kebutuhan perkembangannya untuk jangka panjang. Ketika orang tua tidak menerapkan batasan, anak-anak tidak belajar mengembangkan kemampuan mereka dalam menoleransi frustrasi atau mengontrol dirinya sendiri. Penelitian pun mengungkapkan, ketika orang tua tidak menerapkan batasan, anak-anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengembangkan disiplin diri.

Meski begitu, batasan harus diterapkan secara tepat dengan empati dalam konteks hubungan kuat anak dan orang tua. Misal, dengan menyiapkan aturan main. Setelah siap dengan aturan tersebut, dekati anak, tatap matanya, dan sampaikanlah dengan nada serius.

Apresiasi perilaku baik anak

Alih-alih hanya berfokus pada hal-hal yang dilarang, komunikasikan secara intensif hal-hal yang sebaiknya anak lakukan. Setelah anak memahami dan melakukan hal yang orang tua harapkan, ucapkanlah terima kasih dengan tulus dan penuh sayang atas usahanya.

Ayah Edy mengungkapkan, ketika anak sering kali bertengkar, kita perlu mengingat dan berefleksi. Sering kali orang tua mendiamkan anak-anak yang telah bermain dengan baik dan rukun. Tak ada salahnya memuji perilaku baik mereka dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami. Misal: “Nah, gitu dong, kalau bermain bersama. Ayah/ibu jadi senang juga tambah sayang kalau kalian rukun dan mau saling meminjamkan.”

Batasan memang perlu diterapkan untuk membantu anak-anak memahami bahwa semua orang perlu mengikuti aturan. Pemahaman tersebut tentunya sangat berguna bagi kehidupan Si Kecil hingga ia beranjak dewasa.

Referensi:

  • Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur: 37 kebiasaan Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak oleh Ayah Edy
  • Artikel “What’s Wrong with Permissive Parenting?” pada Aha! Parenting
  • How to Set Limits for Kids Without Harshness, Fear or Shame” oleh Sarah MacLaughlin, LSW pada Huffpost

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.