Ini Manfaat Membaca Tahap Perkembangan Anak

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Sabar menghadapi anak karena memahami perkembangannya (Dok. Shutterstock)

Seberapa sering polah Si Kecil membuatmu elus-elus dada? Kalau saya sih, langsung mantap angkat tangan! Apalagi, saya memiliki dua anak balita yang jarak usianya hanya setahun. Setiap anak sedang menunjukkan polah ‘unik’ sesuai tahap perkembangan masing-masing.

Enggak terbayang seandainya saya tidak memiliki wawasan seputar perkembangan anak. Kayaknya, saya akan mengeluh sepanjang hari. Pemahaman mengenai perkembangan anak memang penting sekali, Parents. Kalau kata pendiri Sekolah Batutis, Siska Yudhistira Massardi, “Sabar itu perlu ilmu. Dengan membaca tahap perkembangan anak, kita dapat meminimalisasi tantrum.”

Kalau buat saya pribadi, memahami perkembangan anak enggak hanya bisa mengurangi tantrum pada Si Kecil, tapi juga tantrum orang tuanya. Hehehe

Sabar menghadapi anak karena memahami perkembangannya

Salah satu fitrah anak adalah mengelola emosi dan masa krusialnya, yakni saat tiga tahun pertama kehidupan Si Kecil. Fase ini tidak akan terulang dan berdampak pada perkembangan anak di usia berikutnya. Orang tua pun harus membekali diri dengan ilmu tentang tahap perkembangan anak sehingga kita bisa lebih bersabar juga berlaku tepat menghadapi polah anak.

Siska pun menjabarkan poin-poin perkembangan anak usia 1-3 tahun mengacu pada teori psikolog perkembangan asal Swiss, Jean Piaget.

Usia 1 tahun

Anak-anak usia satu tahun suka mengamati sebab dan akibat sederhana. Mereka senang sekali:

  • mengosongkan dan mengisi wadah/laci;
  • membuka dan menutup laci;
  • suka menggigit. Si Kecil ternyata mendapatkan keamanan dari menggigit karena ia lantas mendapatkan respon dari orang dewasa.

Usia 2 tahun

Berikut adalah perkembangan anak usia 2 tahun.

  • Suka berlari.
  • Suka menyentuh bagian tubuhnya.
  • Tidak suka berbagi pada orang lain.
  • Suka melihat buku dan mendengar cerita secara verbal.
  • Tidak suka mengenakan baju dan menyukai berlari-lari tanpa baju.
  • Banyak menggunakan kata “tidak.”
  • Paham dengan kata yang diucapkan, dapat menyebutkan 20 atau lebih nama benda, dan menggabungkan kata.
  • Ingin melakukan semua hal sendiri walaupun belum sempurna dan terkadang tidak mampu.
  • Marah dan berteriak.
  • Mulai mengetahui waktunya ke kamar kecil, tapi masih hilang kendali. Anak mulai dapat dilatih toilet training.
  • Lebih suka bermain dan tidak suka tidur. Padahal, tidur baik bagi perkembangan sel-sel tubuh anak. Rutinitas tidur juga menambah berat badan dan tinggi badan anak.

Usia 3 tahun

Di bawah ini adalah perkembangan anak usia 3 tahun.

  • Dapat menyanyikan satu lagu hingga tuntas.
  • Banyak bertanya: “Kenapa?” “Apa itu?” “Mau ke mana?”
  • Kadang anak mau berbagi mainan, tapi ia rebut kembali.
  • Puas main dengan diri sendiri.
  • Suka bertindak lucu dan ingin menyenangkan orang dewasa.
  • Lebih kooperatif daripada usia bawah tiga tahun (batita). Tapi, terkadang perilaku khas batita muncul kembali seperti memasukkan mainan ke dalam mulut.

Anak harus menyalurkan kebutuhan perkembangannya

Anak pun perlu menuntaskan kebutuhan terhadap kecenderungan di atas dan orang tua harus memfasilitasinya. Caranya dengan menyiapkan lingkungan yang child proof bagi Si Kecil untuk bereksplorasi. Aturlah tempat bermain anak sedemikian rupa agar ia dapat bebas bergerak dengan aman. Selain itu, ketika anak berusia setahun, orang tua harus memberikan pengawasan ekstra.

Bagaimana bila anak tidak diberikan kesempatan untuk menyalurkan kebutuhan perkembangannya? Menurut Siska, hal itu terus terbawa sering bertambahnya usia anak. Misal, anak usia 3 tahun masih suka membuka dan menutup laci. Padahal, hal itu merupakan ciri khas perkembangan anak usia 1 tahun.

Menghadapi anak yang memberontak

Bagaimana jika anak memberontak untuk melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya seperti tidur? Menurut Siska, kita dapat mengajak anak sembari tetap mengakui perasaannya.

Contoh: “Mama paham kamu kecewa, kamu ingin main. Tapi, kita bisa tidur sebentar saja, ya.”

Jangan lupa mengapresiasi anak ketika ia berhasil mengelola emosinya.

Orang tua perlu hati-hati dengan perkataannya

Nah, ketika ingin mendorong anak berbagi, perhatikan baik-baik kalimat yang akan kita sampaikan pada anak. Ayah atau Ibu bisa bilang,”Yuk, belajar berbagi dengan temanmu, boleh bergantian.”

Tapi, jangan sampai mengucapkan kalimat yang mendorong anak untuk mengalah.

“Sampai besar, anak jadi kesulitan untuk maju,” ungkap Siska saat menjadi pembicara Lemomoms Meet Up: Handling Tantrum 101, acara kolaborasi Parentalk dan Lemonilo.

Pentingnya merespon pertanyaan anak

Jika Si Kecil yang berusia tiga tahun menanyakan hal yang sama berulang-ulang, teruslah menjawab, Parents.

“Anak bertanya berulang-ulang karena membutuhkan kejelasan, terkadang dengan jawaban berbeda. Maka dari itu, anak perlu diajarkan menggunakan bahasa sesuai SPOK (red: menggunakan kalimat baik dan benar) karena anak senang dengan kata-kata baru,” jelas Siska.

Terlebih, seiring bertambahnya usia, anak akan menggunakan bahasa untuk menyelesaikan konflik. Berikut adalah resolusi konflik anak di atas setahun hingga di atas empat tahun.

  • Bahasa >4 tahun
  • Serangan verbal >3 tahun
  • Serangan fisik >2 tahun
  • Menangis/pasif >1 tahun.

Setelah memahami sekilas tentang perkembangan anak, pahami juga tips mengurangi risko dan mengatasi Tantrum pada Anak Usia Batita.

(Febi/Dok. Parentalk)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.