Cara Mengatasi Keputihan Saat Hamil

By Febi Purnamasari | Published 9th August 2018

Seluk-beluk keputihan atau flour albus dalam kehamilan (Dok. Shutterstock)

Apa gejala kehamilan yang paling mengganggu buat saya? Keputihan jawabannya! Terlebih saat kehamilan anak pertama, tiada hari tanpa drama keputihan disertai rasa gatal yang membakar. Waktu itu dokter kandungan sampai harus turun tangan membersihkan keputihan berwujud kental mirip yoghurt itu. Saya mengalami keputihan abnormal tersebut sejak akhir trimester pertama sampai trimester kedua. Lantas, bagaimana cara mengatasi keputihan saat hamil?

Kenali jenis keputihan

Saya pun berkesempatan mengikuti kelas prenatal di sebuah rumah sakit dan berdiskusi dengan dr. Kristin Kartika, SpOG yang menjadi narasumbernya. Ia pun menjelaskan seluk-beluk keputihan atau flour albus dalam kehamilan.

Menurutnya, ada dua jenis keputihan: normal (fisiologis) dan abnormal. Ciri-ciri keputihan normal, antara lain bening serta tidak berbau maupun tanpa disertai gatal. Keputihan selama kehamilan sebenarnya wajar karena hormon estrogen sedang tinggi-tingginya. Aliran darah ke daerah kewanitaan juga meningkat sehingga mempengaruhi keseimbangan asam pada vagina.

Namun, jenis keputihan abnormal patut diwaspadai karena bisa menyebabkan gangguan perkembangan janin pada ibu hamil. Ciri-cirinya, keputihan berwujud lengket, kental, berbau busuk atau seperti yoghurt, dan menyebabkan rasa gatal di area kewanitaan. Pemicunya bisa dari pertumbuhan jamur, bakteri, maupun protozoa. Ibu hamil umumnya mengalami keputihan abnormal karena jamur Candida albicans.

Lantas, kenapa jamur tumbuh subur saat hamil? Hal itu bisa jadi disebabkan kebiasaan atau kondisi berikut.

  • Penggunaan celana yang ketat
  • Area vagina lembab dan kurang bersih
  • Pemakaian pantyliner
  • Iritasi kewanitaan yang disebabkan oleh sperma
  • Penggunaan pelicin atau lubricant ketika berhubungan intim
  • Pemakaian pembersih vagina yang terlalu sering
  • Efek samping antibiotik
  • Diabetes
  • Stres

Selain jamur, keputihan juga bisa disebabkan protozoa dan bakteri. Beda pemicu, beda pula ciri-ciri keputihan yang ditimbulkan.

  1. Jamur Vulvovaginal candidiasis merupakan keputihan yang paling gatal, berbau, mirip yoghurt, kental, dan lengket.
  2. Protozoa Trichomoniasis, keputihannya berbuih, berwarna kuning kehijauan, menyebabkan bintik-bintik di bagian vagina, dan berbau busuk.
  3. Bacterial vaginosis, keputihan berwarna putih keabu-abuan, berbau amis, dan menimbulkan nyeri.

Menurut dr. Kristin, keputihan abnormal seperti ini tak boleh disepelekan karena jika berkepanjangan bisa menyebabkan:

  • bayi prematur,
  • berat badan bayi rendah,
  • keguguran dan kematian janin,
  • ketuban pecah dini, atau
  • infeksi mata dan kebutaan pada bayi ketika melalui jalan lahir bila ibu hamil juga mengalami gonorrhea, penyakit menular seksual.

Mengatasi keputihan abnormal

Jika mengalami keputihan abnormal seperti ciri-ciri di atas, segera konsultasikan dengan dokter kandungan ya, Bu. Nantinya dokter mungkin memberikan antibiotik atau antijamur sesuai jenis keputihan.

Saya sendiri pada waktu itu diresepkan obat antijamur yang harus dimasukkan ke lubang vagina setiap malam sebelum tidur. Voila! Pagi harinya obat tersebut membawa ‘turun’ keputihan yang mengganggu. Saya cukup menggunakan obat ini sekitar 4-5 hari saja sampai gatal dan keputihan benar-benar hilang. Namun perlu kita ingat, reaksi obat ini pada setiap perempuan berbeda-beda. Jadi, sekali lagi, konsultasikan dulu dengan dokter kandungan, ya.

Tak kalah penting, jaga kebersihan area kewanitaan sebagai upaya penyembuhan dan pencegahan terbaik. Kondisi vagina idealnya asam dengan pH 3,5-4,5 sehingga jamur dan bakteri jahat sulit tumbuh subur. Selain itu, keasaman pada daerah kewanitaan dihasilkan oleh bakteri baik bernama Lactobacilli. Karena itulah, sebaiknya hindari penggunaan sabun untuk membersihkan area kewanitaan. Penggunaan sabun justru bisa membunuh bakteri baik tersebut. Jadi, cukup gunakan air bersih yang mengalir dan keringkan vagina sesudah buang air kecil maupun besar.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.