Apakah Sleep training Lebih Baik dari Co-sleeping?

By Febi Purnamasari | Published 15th November 2018

Sleep training merupakan proses anak belajar tidur sendiri secara terpisah dari ayah dan ibunya alias di ruangan berbeda (Dok. Pixabay)

Kebanyakan orang tua di Indonesia cenderung tidur bersama bayi atau anak balita dalam satu ranjang alias menerapkan co-sleeping. Nah, kalau di Amerika Serikat, sleep training sudah lazim dilakukan, bahkan berlaku bagi bayi. Tapi, ada juga sih, Millennial Parents di Indonesia yang menerapkannya.

Sleep training merupakan proses anak belajar tidur sendiri secara terpisah dari ayah dan ibunya alias di ruangan berbeda. Salah satu syaratnya, anak ditaruh di tempat tidur dalam kondisi terjaga, bukan tertidur.

Sebagian besar orang tua di Indonesia merasa sleep training kurang cocok untuk mereka karena tak tega. Sementara di Amerika Serikat, sleep training diterapkan sejak bayi karena justru dapat memudahkan Si Kecil belajar mandiri sejak dini. Lantas, apakah sleep training lebih baik dari co-sleeping? Keduanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Nah, penjelasan lengkap seputar sleep training bisa kamu temukan di bawah ini, ya.

Kelebihan

Anak belajar tidur sendiri tanpa bergantung pada orang tua

Sleep training memiliki tujuan jangka panjang, yaitu anak dapat tidur sendiri dengan mudah. Menurut situs Baby Center, kemampuan untuk tidur sendiri dapat dikuasai oleh bayi bila orang tua memberikannya kesempatan. Jika bayi belajar menenangkan dirinya untuk tidur, ia akan menggunakan kemampuan yang sama ketika terbangun tengah malam atau tidur siang.

Semakin dini usia anak, sleep training semakin mudah

Penelitian pada jurnal Pediatrics menunjukkan, bayi berusia 4-9 bulan yang sudah mulai tidur terpisah mempunyai kualitas tidur lebih baik. Hal ini terlihat dari waktu tidur anak yang lebih panjang ketimbang mereka yang tidur sekamar dengan orang tuanya. Kebiasaan tidur sendiri yang baru dimulai di usia satu tahun justru lebih menantang karena anak sedang dalam masa separation anxiety atau memiliki kecemasan akan perpisahan.

Orang tua memiliki ruang privasi sebagai pasangan

Tak hanya memberikan kesempatan tidur lebih nyenyak, orang tua juga memiliki keleluasaan untuk bermesraan ketika anak sudah pintar tidur sendiri,

Tantangan

Harus rela bolak-balik ke kamar Si Kecil

Ketika bayi masih sering menyusu atau anak masih butuh untuk ditemani, orang tua harus siap bolak-balik ke kamar Si Kecil untuk memenuhi kebutuhannya.

Drama di masa awal latihan tidur sendiri

Orang tua mau enggak mau harus menghadapi kemungkinan Si Kecil terus menangis dan rewel saat ia mulai belajar tidur sendiri. Belum lagi, adanya komplain dari keluarga maupun tetangga karena tangisannya yang lama mengganggu ketenangan.

Kalau menurut saya, sleep training cocok buat #MillennialParents yang tinggal mandiri alias tidak bersama orang tua atau mertua. Kalaupun tinggal bersama nenek dan kakek Si Kecil, pastikan mereka paham betul alasan Si Kecil perlu menjalani sleep training. Jangan lupa sampaikan ke para tetangga bahwa mungkin waktu tidur mereka akan terganggu oleh respon anak.

Berkurangnya kesempatan bonding anak dengan orang tua

Ayah dan ibu adalah sumber keamanan juga kenyamanan bagi anak usia 0-2 tahun. Jadi, ketika anak harus tidur terpisah dengan orang tuanya, ia mungkin tidak memperoleh rasa aman dan nyaman ini secara optimal.

Risiko stres pada anak ketika belum siap

Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda-beda untuk bisa tidur sendiri. Ketika orang tua memaksakan sleep training pada anak yang belum siap, hal itu justru bisa memicu stres dan kecemasan padanya.

Pilihan co-sleeping maupun sleep training pun bersifat individual. Ada anak yang dapat tidur nyenyak ketika tidur bersama orang tuanya. Tapi, ada juga yang justru sering terbangun jika terlelap di sebelah ibunya dan dapat tidur lebih tenang di ruangan terpisah.

Meski begitu, apapun pilihannya, orang tua perlu memastikan hal-hal di bawah ini terkait kebiasaan tidur anak.

  • Tidak membiarkan anak tidur sendiri di ranjang yang dirancang untuk orang dewasa. Anak yang sudah bisa berguling sebaiknya tidur di lantai beralaskan matras rata.
  • Bayi tidur dalam posisi terlentang, bukan tengkurap guna mengurangi risiko SIDS
  • Menghindari paparan asap rokok terhadap anak. Beberapa studi menemukan, bayi-bayi yang tidur bersama orang tua perokok berisiko tinggi mengalami SIDS.
  • Memastikan ruangan tidur ramah dan aman anak. Pasalnya, anak yang lebih besar dapat saja menjelajahi isi ruangan sendiri ketika ayah dan ibunya terlelap.
  • Anak yang lebih besar sebaiknya tidak tidur satu kasur dengan anak di bawah setahun.
  • Jika berat badan orang tua terlalu besar, opsi tidur bersama mungkin tidak aman bagi Si Kecil.

Referensi:

  • What To Expect The First Year oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel
  • Artikel “Sleep-sharing: The family bed” pada Baby Center

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.